Magic App 2 (Chapter 8)

 Chapter 8 : Perintah Kedua

Della dan Nia tengah makan siang di kafe yang menjadi langganan mereka. Keduanya duduk di sudut ruangan, dekat jendela yang diterpa cahaya matahari siang. Aroma kopi menguar di udara, berpadu dengan percakapan pengunjung lain dan suara alunan musik klasik yang mengalun lembut. Di sela-sela suapan, obrolan ringan mengalir, menghadirkan kehangatan sederhana di antara kakak beradik.

"Kak Devano apa kabar, Kak? Masih sibuk kayak kemarin?" tanya Nia sesaat setelah menyeruput kopi miliknya.

"Kabarnya baik. Masih sibuk seperti biasanya. Dia nggak pernah benar-benar santai."

Nia mengangguk pelan sambil melahap potongan croissant yang telah dipotongnya.

"Bedanya sekarang dia selalu ngabarin."

"Bagus dong. Nia senang dengarnya."

Della tersenyum kecil menanggapi ucapan Nia. Jemarinya meraih gelas berisi jus alpukat, mengarahkan sedotan ke arah bibirnya, tetapi sebelum sempat meneguk, pandangannya menangkap sesuatu di seberang sana.

"Kak Della? Kak Della kenapa?"

Della terdiam beberapa saat. Tatapannya masih fokus pada apa yang baru saja dilihatnya.

"Itu Devano."

Nia spontan menoleh. Di seberang sana, Devano duduk berhadapan dengan seorang perempuan di ruangan privat. Perempuan itu tampak rapi, profesional—tetapi keakraban keduanya terasa lebih dari sekadar urusan pekerjaan.

"Kak Devano lagi sama siapa, Kak?"

Della masih menatap ke arah ruangan itu tanpa berkedip. Rahangnya sedikit mengeras, meski wajahnya tetap berusaha tenang.

"Perempuan itu Kimberly," jawabnya singkat.

"Sekretarisnya ya?"

Della mengangguk pelan. Beberapa detik berlalu. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Della menarik napas pelan, lalu melepaskannya perlahan. Jemarinya yang tadi memegang gelas kini turun ke meja, tanpa jadi minum.

Di seberang sana, Devano terlihat sedikit mencondongkan tubuhnya saat berbicara. Kimberly menanggapinya dengan senyum kecil—bukan senyum formal, melainkan senyum yang seolah sudah terbiasa muncul. Tidak berlebihan, tidak mencolok—justru itu yang membuatnya terasa terlalu dekat di mata Della.

"Apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa Kimberly sampai senyum-senyum seperti itu?"

Della menelan ludah pelan. Dadanya terasa sedikit sesak, meski ia sendiri tidak yakin kenapa.

"Kak, are you okay ? Aku yakin mereka hanya lagi bahas kerjaan."

"I'm fine."

Della menghela napas pelan, lalu kembali menatap Devano dan Kimberly di ruangan privat itu. Keduanya terlihat akrab—seolah sudah saling kenal cukup lama.

"Apa mereka sebenarnya udah kenal lama?"

Della meraih ponselnya dari dalam tas, mencoba mengirimkan pesan pada Devano.

Devano ❤️

12:01 Kamu lagi di mana?

Aku lagi di Classical Cafe. 12:03

Habis meeting sama klien. 12:03

Sekarang lagi makan siang. 12:03

12:04 Oh, gitu. Kamu sendirian atau sama Kimberly?

Kimberly ikut juga. 12:04

Nggak apa-apa 'kan? 12:04

12:05 Gpp kok. Semangat kerjanya.πŸ’•


Makasih, Sayang. πŸ’• 12:05

"Kakak nge-chat siapa?"

"Kak Devano. Dia habis meeting sama klien."

"Tuh 'kan kata Nia juga apa. Pasti bahas kerjaan. Kakak jangan overthinking ya?"

"Iya," jawab Della singkat.

"Oh, iya udah jam segini. Nia ada kelas lagi jam satu. Nia pamit ya, Kak?"

"Oh, gitu. Ya, udah kamu hati-hati di jalan."

"Siap, Kak. Kakak masih mau di sini?"

"Iya, habisin dulu ini."

"Okay, Kak. Nia duluan ya? Makasih traktirannya."

"Sama-sama, Dek."

Nia tersenyum kecil sebelum benar-benar melangkah pergi dari kafe itu. Sesaat kemudian, sosoknya menghilang di antara pintu keluar yang ramai. Suasana yang semula hangat mendadak berubah. Lebih sunyi dan dingin. Della tidak langsung bergerak.

Ia hanya duduk diam sambil menghabiskan jus alpukat miliknya. Beberapa menit berlalu. Della beranjak dari duduknya menuju kasir.

"Totalnya jadi lima puluh delapan ribu, Kak," ujar kasir setelah memeriksa pesanan Della.

Della mengangguk pelan, lalu mengeluarkan uang pas dari dompetnya. Tidak banyak ekspresi di wajahnya, hanya gerakan yang dilakukan seperti biasa. Ia pun melangkah menjauh dari kasir menuju pintu keluar. Udara siang langsung menyambut begitu pintu terbuka. Tanpa berlama-lama, Della langsung melangkah masuk ke mobilnya. Di mobil, ia kembali meraih ponselnya.

"Apa aku harus memakai Magic App lagi?"

Tanpa ia sadari, jemarinya otomatis membuka aplikasi tersebut.

Magic App

Apa kabar, Kak Della? Ada yang bisa Magic App bantu? ✨ 12:15

12:16 Jauhkan Devano dari Kimberly.


Baik, Kak. Magic App proses dulu ya.✨ 12:16

Perintah Kak Della berhasil diproses! ✅✨12:17

Della tersenyum kecil sambil menatap layar ponselnya cukup lama.

"Kira-kira efeknya bakal gimana ya? Maafin aku ya, Yang. Aku terpaksa memakai aplikasi ini lagi."

Beberapa detik berlalu. Tidak terjadi apa-apa. Layar ponselnya tetap diam. Tidak ada notifikasi baru, tidak ada tanda apa pun yang berubah.

Della menghela napas pelan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi mobil. Pandangannya kosong ke arah depan, tetapi pikirannya masih tertinggal di dalam kafe. Senyum kecil Kimberly tadi kembali terlintas dalam pikiran.

Di dalam kafe, Devano masih duduk di kursinya, sementara Kimberly tampak sibuk membereskan berkas-berkas di atas meja. Jemarinya bergerak cepat dan rapi, memasukkan dokumen ke dalam map.

"Kerja bagus, Kim. Saya nggak menyangka kamu bisa beradaptasi secepat ini."

"Terima kasih, Pak."

Kimberly tersenyum tipis, lalu menutup map terakhir dengan rapi.

"Memang itu tugas saya, Pak," jawabnya profesional, tapi nada suaranya terdengar lebih ringan dari biasanya.

Devano mengangguk kecil. Namun setelah itu, tidak ada lanjutan kalimat. Ia justru terdiam, pandangannya sedikit kosong.

"Masih ada yang perlu dibahas, Pak?" tanya Kimberly, mencoba mengisi keheningan.

"Tidak ada. Sekarang kita kembali ke kantor."

"Baik, Pak."

Kimberly mengangguk, lalu meraih tasnya. Namun sebelum benar-benar berdiri, ia sempat melirik Devano sekali lagi—seolah memastikan sesuatu. Wajah Devano terlihat sedikit pucat.

"Pak Devano baik-baik saja?"

Devano tidak langsung menjawab. Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya Devano menjawab.

"Saya baik-baik saja."

Kimberly mengernyit tipis. Meskipun ia masih terbilang baru bekerja dengan Devano, tapi ia sudah mengenal Devano cukup lama. Kimberly dapat merasakan  ada yang berbeda dari atasannya.

"Bapak yakin? Kalau Bapak kurang enak badan, kita bisa istirahat sebentar."

"Tidak perlu. Kita balik ke kantor sekarang."

Nada suara Devano terdengar lebih tegas dari biasanya, seolah menutup ruang untuk perdebatan.

Kimberly tidak membantah. Ia hanya mengangguk pelan, meski rasa tidak enak masih mengganjal di dalam hatinya.

"Baik, Pak."

Keduanya pun keluar dari kafe tanpa banyak bicara. Perjalanan menuju kantor berlangsung dalam diam. Kimberly sesekali membuka tablet, memastikan jadwal Devano untuk sisa hari itu. Jemarinya bergerak cepat, mencatat, menyesuaikan, dan mengingatkan—seperti biasanya. Profesional. Teratur.

"Pak, untuk meeting jam tiga nanti—" Kimberly mulai berbicara.

"Re-schedule."

"Re-schedule, Pak?"

"Iya. Pindahkan ke besok pagi."

Nada suaranya datar. Tidak ada penjelasan tambahan. Kimberly terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

"Baik, Pak. Saya coba hubungi Pak Januar dulu untuk re-schedule meeting sore ini."

Kimberly segera menghubungi Pak Januar melalui sambungan telepon, sementara Devano kembali fokus menyetir. Beberapa menit berlalu. Kimberly telah selesai menghubungi Pak Januar.

"Meeting sama Pak Januar jadinya besok pagi ya, Pak."

"Hmm ..."

To be continued ... © 2026 by WillsonEP.

Comments

Trending This Week πŸ”₯

πŸ“£ Baca Duluan Bisakah Aku Bahagia