Chapter 8 : Perintah Kedua Della dan Nia tengah makan siang di kafe yang menjadi langganan mereka. Keduanya duduk di sudut ruangan, dekat jendela yang diterpa cahaya matahari siang. Aroma kopi menguar di udara, berpadu dengan percakapan pengunjung lain dan suara alunan musik klasik yang mengalun lembut. Di sela-sela suapan, obrolan ringan mengalir, menghadirkan kehangatan sederhana di antara kakak beradik. "Kak Devano apa kabar, Kak? Masih sibuk kayak kemarin?" tanya Nia sesaat setelah menyeruput kopi miliknya. "Kabarnya baik. Masih sibuk seperti biasanya. Dia nggak pernah benar-benar santai." Nia mengangguk pelan sambil melahap potongan croissant yang telah dipotongnya. "Bedanya sekarang dia selalu ngabarin." "Bagus dong. Nia senang dengarnya." Della tersenyum kecil menanggapi ucapan Nia. Jemarinya meraih gelas berisi jus alpukat, mengarahkan sedotan ke arah bibirnya, tetapi sebelum sempat meneguk, pandangannya menangkap sesuatu di sebera...