Magic App 2 (Chapter 5)

Chapter 5 : Perintah Pertama

Sudah beberapa hari terakhir Devano selalu pulang terlambat. Malam ini pun juga sama. Della duduk di ruang tengah, menunggu kepulangan sang suami. Detak jam dinding terdengar pelan, tetapi entah mengapa terdengar lebih nyaring dari biasanya. Televisi menyala tanpa benar-benar ia tonton—hanya sebagai pengisi sunyi. Ponselnya beberapa kali ia buka, berharap ada pesan masuk dari lelaki itu.

Ternyata, tidak ada. Hanya terdapat notifikasi pengingat pekerjaan dan beberapa pesan dari grup yang menurutnya tidak penting. Della menghela napas panjang, lalu menaruh ponselnya di atas meja.

“Kamu di mana sih, Yang? Kok nggak ada kabar? Apa kamu sesibuk itu sampai nggak sempat ngabarin aku?”

Selang beberapa saat, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Begitu mendengar ketukan itu, Della langsung beranjak dari duduknya menunu pintu depan dengan semangat.

“Itu pasti Devano.”

“Akhirnya kamu pulang juga …” lanjut Della refleks pada orang yang berada di depan pintu unit.

“Halo, Kak!”

Della sedikit terkejut. Ternyata sosok di balik pintu unitnya bukan Devano melainkan Nia, adiknya.

“Cie, cie, nungguin siapa nih? Nungguin suaminya pulang ya?”

“Ah, ternyata kamu, Dek. Kakak pikir Kak Devano yang datang.”

“Nia kangen sama Kakak. Kakak nggak kangen sama aku?”

“Kangen juga kok. Udah lama kita nggak ketemuan.”

“Boleh Nia masuk?”

“Tentu boleh dong. Ayo, masuk!”

“Makasih, Kak.”

Keduanya beranjak masuk. Setibanya di ruang tengah, Nia langsung menjatuhkan diri ke sofa.

“Akhirnya bisa nyantai juga.”

Nia menghela napas panjang, kemudian melirik ke arah Della yang masih berdiri.

“Kak Devano kenapa belum pulang, Kak?”

“Biasalah, ada kerjaan dia.”

“Oh, gitu.”

By the way, kamu habis dari mana?”

“Dari kampus. Tadi Nia ada kelas sore.”

“Udah makan malam?”

Nia menggeleng sambil tersenyum.

“Belum nih. Traktir dong, Kak.”

“Dasar kamu. Memangnya kamu mau makan apa?”

“Hmm … apa ya? Pizza aja deh.”

“Oke, Kakak pesan online ya?”

“Makasih, Kakakku tersayang.”

Della tersenyum tipis, lalu meraih ponselnya kembali. Jemarinya mulai menekan layar, memilih menu yang diinginkan.

“Yang biasa ya?” tanya Della sambil melirik Nia.

“Iya, yang banyak kejunya. Biar aku happy,” jawab Nia sambil terkekeh kecil.

Della membalas dengan senyuman, lalu menyelesaikan pesanannya. Setelah itu, ia meletakkan ponselnya di meja dan bersandar pada sofa. Suasana sempat hening beberapa detik. Nia melirik ke arah Della.

“Kak, boleh aku tanya sesuatu?”

“Boleh. Kamu mau tanya apa?”

“Kakak baik-baik saja?”

“Maksudnya?”

“Kakak keliatan beda.”

“Beda gimana? Kakak keliatan gendutan ya?”

“Bukan itu maksudku. Kakak keliatan banyak pikiran.”

“Namanya juga hidup, Dek. Banyak kerjaan, banyak pikiran itu hal yang wajar ‘kan?”

“Iya, sih. Mungkin ada yang mau dibagi ke Nia?”

“Hmm … nggak ada. Kamu lebih baik fokus sama kuliah kamu. Gimana kuliah kedokteran?”

“Sangat menguras energi, tapi seru! By the way, pizza aku udah sampai mana, Kak?”

“Mungkin masih di jalan. Bentar Kakak cek.”

Della meraih ponselnya, membuka aplikasi pesan antar dari salah satu restoran pizza ternama.

WePizza

WePizza driver is almost near you! 19.00

“Udah dekat nih. Kakak ke bawah dulu ya?”

“Aku aja yang ambil. Kakak tunggu sini.”

“Ya udah, nih HP Kakak kamu bawa. Takutnya driver-nya kontak.”

Okay.”

Nia beranjak dari duduknya setelah menerima ponsel Della, melangkah pergi keluar unit. Sementara itu, Della masih terduduk diam di atas sofa.

“Udah jam segini, masih belum ada kabar juga. Kamu ke mana?”

Hening. Hanya suara detak jam dan televisi yang menyala, suaranya terdengar samar mengisi ruang kosong yang terasa semakin lebar. Della menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit tanpa fokus. Pikirannya menjadi ke mana-mana. Bukan baru kali ini Devano pulang terlambat, tapi entah kenapa malam ini terasa berbeda.

Lebih sunyi.

Lebih menekan.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Nia masuk sambil membawa dua kotak pizza di tangannya.

“Kak! Ini aku udah ambil … ”

Langkah Nia terhenti sejenak melihat Della terduduk diam dengan tatapan kosong.

“Kak, are you okay?”

Della tersentak sedikit, lalu memaksakan senyumnya.

Kakak baik-baik saja. Ayo, kita makan!”

Nia mendekat, meletakkan kotak pizza di atas meja. Ia tidak langsung duduk, matanya masih memperhatikan wajah kakaknya dengan penuh selidik.

“Yakin nggak apa-apa?”

“Yakin.”

“Oh, iya tadi Kak Devano nge-chat.

“Oh, ya? Dia chat apa?”

Nia tidak langsung menjawab. Tatapannya sempat ragu sebelum akhirnya menyerahkan ponsel itu pada Della.

“Ini, Kak … Kakak baca sendiri aja.”

Della menerima ponselnya pelan. Entah kenapa, jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat. Ibu jarinya sempat menggantung di atas layar beberapa detik sebelum akhirnya ia membuka pesan itu.

Satu pesan masuk.

Singkat.

Devano

Del, aku nggak pulang malam ini. 19:07

Kalimatnya sederhana. Tidak ada yang aneh secara kata-kata, tetapi entah kenapa … terasa dingin.

Terlalu dingin.

“Nggak pulang … ?” gumam Della pelan.

Nia langsung duduk di sampingnya.

“Kak …”

Della menarik napas pelan, lalu mengembuskan dengan hati-hati, seolah sedang menahan sesuatu agar tidak keluar.

“Kita makan sekarang ya, Dek.”

“Oke.”

Nia membuka kotak pizza dan mulai mengambil satu potong. Della ikut mengambil, tapi tangannya bergerak lebih lambat. Mereka makan dalam diam. Sesekali Nia mencoba mencairkan suasana dengan komentar ringan, tapi Della hanya membalas seperlunya. Senyumnya tetap ada, tapi terasa jauh.

Della sesekali melirik ponselnya. Ia masih berharap ada pesan lanjutan dari Devano. Namun, lelaki itu sama sekali tidak mengirimkan pesan lanjutan. Della menelan ludah, lalu menaruh kembali potongan pizza yang belum habis.

“Udah kenyang, Kak?”

“Iya. Harusnya beli satu box aja. Sayang kalau nggak kemakan.”

“Tenang, ada Nia yang siap menghabiskan.”

“Memangnya habis?”

“Pasti habis dong, Kak.”

Della tersenyum tipis, lalu bangkit dari duduknya.

“Kakak ambilin minum dulu ya?”

“Iya.”

Della berjalan ke dapur, membuka kulkas, lalu mengambil dua botol air dingin. Tangannya bergerak otomatis, tapi pikirannya tidak benar-benar ada di sana. Ia menutup pintu kulkas perlahan, lalu diam sejenak.

“Tenang, Della. Devano pasti lagi ada kerjaan jadi dia nggak pulang. Kamu jangan punya pikiran yang aneh-aneh. Devano itu cinta sama kamu.”

“Kak … minumnya masih lama? Seret nih,” panggil Nia.

“Iya, Dek. Bentar.”

Della kembali ke ruang tengah, membawa dua botol air dingin di tangannya.

“Nih,” ujarnya sambil menyerahkan botol minum ke Nia.

Thanks, Kak.”

Mereka kembali duduk berdampingan. Nia masih melanjutkan makannya dengan santai, sementara Della hanya memandangi botol di tangannya. Beberapa detik berlalu.

Hening.

“Kak …” panggil Nia pelan.

“Iya?”

“Kakak nggak mau coba chat Kak Devano?”

Chat apa?”

“Ya, tanya dong kenapa dia nggak pulang malam ini.”

“Memangnya harus?”

“Ya, harus dong. Biar Kakak tenang.”

“Nggak perlu, Dek. Kakak takut ganggu. Kak Devano paling nggak suka diganggu kalau lagi kerja.”

“Ya, udah. Terserah Kak Della aja. Oh, iya malam ini aku nginep ya? Aku mau temenin Kak Della di sini.”

“Boleh. Makasih ya, Dek.”

“Sama-sama. Kakak ke kamar duluan ya? Kakak udah ngantuk.”

“Selamat istirahat, Kak. Nggak usah dipikirin terus.”

“Iya …”

Della beranjak dari duduknya, masuk ke kamar. Setiap langkahnya terasa lebih berat dari biasanya, seolah ada sesuatu yang menahan. Sementara itu, Nia tetap di ruang tengah. Ia merapikan sisa makanan di meja, menutup kotak pizza, lalu menaruhnya ke samping. Setelah itu, ia meraih bantal.

“Nggak enak juga kalau tidur di kamar Kak Della…” gumamnya pelan.

Akhirnya, ia memutuskan berbaring di sofa ruang tengah. Lampu utama dimatikan, menyisakan lampu kecil di sudut ruangan. Di kamar, Della baru saja selesai menyikat gigi. Kini, ia sudah berbaring di atas tempat tidur sambil menatap layar ponselnya.

Ting! Sebuah notifikasi masuk.

Magic App

Make your husband as you want. Control your husband now?

Tanpa sadar, Della menekan notifikasi tersebut.

Yes. I want control my husband.

Control activated.

Halo, Kak Della. Ada yang bisa Magic App lakukan? 19:37

19:38 Tolong buat Devano lebih mengutamakan istri dibandingkan pekerjaan.

Baik, Kak. Permintaan Kak Della Magic App proses dulu ya. 19:38

To be continued ... © 2026 by WillsonEP. Bagaimana chapter kali ini? Tulis di kolom komentar ya. Jangan lupa comments, and share. Terima kasih sudah mampir. 😊

Comments

Trending This Week 🔥

📣 Baca Duluan Bisakah Aku Bahagia